JCI-KimberleySun 14/02/2016

Apakah perlu mendapatkan kelulusan S-1 (Strata satu) sebelum bekerja?

Apakah perlu melanjutkan pendidikan S-2 (Strata dua) langsung setelah lulus S-1 ataukah sebaiknya bekerja dahulu?

Apakah gelar S-2/S-3 (Strata tiga) menjamin peningkatan karir yang signifikan?

  

Tidak ada aturan baku yang kaku untuk pertanyaan ini. Namun demikian, jika melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 segera setelah menyelesaikan S-1, maka yang sering  terjadi adalah “Over-qualified and under-experienced” (“Kualifikasi yang berlebihan, namun pengalaman dan pencapaian yang masih kurang memadai”).

 

Perusahaan umumnya memakai jasa “Executive Search” untuk mencari posisi middle sampai dengan top management. Ketika me-recruit kandidat, baik perusahaan kecil, menengah maupun besar; nasional maupun multinasional, akan mempertimbangkan pengalaman kerja yang relevan, achievements dan management style-nya. Seseorang yang memiliki pengalaman yang kaya di bidang-bidang yang sinergis disertai achievements yang luar biasa, yang tercantum secara lengkap dan lugas dalam resumé-nya, dapat memperoleh posisi sangat senior, tanpa perlu memiliki titel S-2 manajemen/bisnis, ataupun S-3. Namun, patut dicatat, jika ada dua kandidat, dengan pengalaman kerja relevan dan achievements yang serupa, maka yang memiliki gelar Master/Magister, tentunya akan mendapatkan penilaian lebih tinggi.

 

Untuk perusahaan manufacturing, IT, farmasi, biotechnology, consulting, gelar S-1 yang sesuai dengan bidangnya (misalnya: Teknik mesin, Ilmu/Teknik Komputer, Farmasi/Teknik Kimia, Kedokteran, dsb), ditambah dengan gelar Master/Magister dalam bidang Bisnis/Commerce/Manajemen, akan sangat disukai untuk dijadikan Senior/General Manager/Head of Division/Department, bahkan sampai dengan Direktur. Sedangkan gelar S-1 dalam bidang manajemen atau lainnya yang relevan, untuk perusahaan FMCG/Trading/Retail, disertai pengalaman kerja yang sesuai dan pencapaian yang mengagumkan, sudah cukup untuk dipercaya memimpin suatu divisi, tanpa perlu ada gelar S-2 dalam manajemen/bisnis.

 

Lulusan S-1 sudah tentu di zaman sekarang merupakan “basic requirement” (persyaratan pokok), untuk posisi permanent staff/officer (entry level). Ijazah S-1 mutlak dipunyai, namun hanya merupakan persyaratan dasar bagi recruiter untuk dapat melanjutkan proses seleksi.

 

Beberapa Business Schools memang memperbolehkan Fresh Graduates untuk langsung melanjutkan ke S-2 bahkan MBA, yang seharusnya membutuhkan pengalaman kerja minimal 5 tahun. Banyak lulusan S-1 yang gembira dengan persyaratan yang mudah ini karena mereka beralasan jika telah bekerja full-time akan sulit dan tidak ada “mood” untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

 

Namun ketika mereka kembali ke dunia kerja, mereka akan dihadapkan oleh permasalahan yang kompleks dalam mengelola bisnis yang tidak didapatkan dalam “case studies” di Business School. Akhirnya, walaupun sangat meyakinkan pada saat diwawancara, kandidat itu akan menyerah di lingkungan pekerjaan yang sesungguhnya, disebabkan oleh banyaknya faktor (terutama faktor manusia-nya) yang mempengaruhi pencapaiannya, yang umumnya dianggap konstan (“ceteris paribus”) di pendidikan manajemen/bisnis.

 

 

Alfred, bukan nama sebenarnya, kembali dari studi-nya dari luar negeri, di salah satu negara favorit tujuan pelajar Indonesia, dengan mengantongi gelar BBA dan MBA, tanpa pengalaman kerja sedikitpun. Kemampuan bicaranya dengan bahasa Inggris sangat meyakinkan, dengan konsep-konsep bisnis yang piawai, sehingga Recruiter dari salah satu perusahaan multinasional, dengan penuh keyakinan me-recruit-nya sebagai Assistant Manager. Namun beberapa bulan kemudian, atasannya mulai heran dan kecewa, karena walaupun dia dibekali dengan argumen-argumen yang convincing setiap kali berdebat, tetapi tidak satupun pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya dapat selesai pada waktunya dengan hasil yang sempurna. Dan banyak “colleagues”-nya yang nampaknya kurang mau bekerja sama dengannya. Ketika digali lebih dalam, ternyata rekan kerjanya kurang berkeinginan men”support”nya karena mereka merasa dia “arrogant” dan menganggap dirinya lebih cerdas dan paling tahu segalanya. Utamanya adalah sebenarnya dia kurang mengetahui lekuk-liku pekerjaan yang dilimpahkan padanya dan “permainan politik” di dalam organisasi.

 

 

Pernah pula Executive Search consultant mengusulkan seorang kandidat dengan gelar PhD (Doctor of Philosophy) untuk posisi Marketing Director, namun user-nya dari perusahaan automotive component malah merasa agak aneh, dan menyangsikan apakah nantinya kandidat tersebut dapat lebih “down-to-earth”/”membumi”, tidak hanya pandai ber-konseptual dan teoritikal belaka. Mereka, akhirnya, lebih prefer kandidat yang “hanya” lulusan S-1 namun berpengalaman lebih dari sepuluh tahun di bidang marketing, dengan achievements yang signifikan.

 

 

Salah satu solusinya bagi peniti-karir adalah terus bekerja seraya menyelesaikan pendidikan S-2, walau melelahkan, hal ini akan menurunkan “Opportunity Cost”, karena gaji dan benefit masih rutin diperoleh, ditambah karyawan tidak kehilangan perkembangan situasi di tempat kerja. Namun, tatkala gelar S-2 diperoleh, tidak serta merta employer akan mempromosikan staff tersebut ke posisi manajerial atau yang lebih tinggi, sehingga tidak jarang, mereka akan mulai mencari tempat kerja yang baru yang dapat menawarkan posisi dan gaji yang lebih menarik. Executive Search Consultant/Head Hunter tentunya dapat berperan dalam menjembatani ini.

 

 

Generalist atau Specialist?

 

Jadilah seorang generalist (“memiliki pengetahuan umum yang beragam luas”) pada saat telah menguasai (beberapa) spesialisasi dengan matang, berusahalah fokus pada apa yang dikerjakan sekarang, dan sebaiknyalah memperdalam bidang pekerjaan yang digeluti selama beberapa tahun (syukur kalau pekerjaan ini juga disukai, sehingga tidak membosankan), setelah itu carilah kesempatan untuk “Tour of Duty” ke divisi/departemen yang lain dalam satu perusahaan. Setelah menguasai beberapa keahlian di bidang yang berbeda-beda bersiap-siaplah untuk dinominasikan dan dipromosikan menjadi General Manager atau Head of Division. Jika tidak di perusahaan yang sama, tentunya di perusahaan lain yang dapat lebih menghargai pengalaman ekstensif yang relevan. Executive Search consultant tentu juga dapat membantu dalam hal ini.

 

 

Banking dan Telecommunication masih primadona

 

 

Dari hasil pengambilan data remunerasi/kompensasi, baik yang “real” maupun dari survey (lihat “Methodology”), kami mendapatkan bahwa  sektor Banking dan Telecommunication masih mendominasi ranking utama total remunerasi, disebabkan oleh basic salary dan bonus tahunan mereka yang besar dan struktur benefit yang royal.

 

Tidaklah mengejutkan jika sektor-sektor ini juga gemar me-recruit orang-orang yang memiliki pendidikan S-1 dan S-2 dari universitas ternama, terutama perusahaan/bank multinasional akan lebih prefer lulusan S-2 dari overseas university yang terkenal. Bahkan ada tunjangan/subsidi pendidikan khusus jika karyawan mereka hendak melanjutkan pendidikannya ke S-2.

 

 

Untuk sektor hotel, restoran dan sejenisnya (Hospitality), rendahnya basic salary masih tertutup oleh bonus yang mereka dapatkan dari pendapatan “Service Charge” yang dibagikan merata ke setiap karyawan di setiap level.

 

 

Adapun sektor Education/Training, masih berkutat di bagian bawah perangkingan. Patut disayangkan, karena sektor Pendidikan dan Training merupakan tulang punggung peningkatan kecerdasan bangsa, seharusnya remunerasi/kompensasi untuk orang-orang yang bekerja dalam bidang ini dapat lebih ditingkatkan, demi untuk meningkatkan kualitas bangsa Indonesia secara keseluruhan.

 

 

Ditulis oleh:

Junius R. Lee, S.E., M.Commerce, M.Science.

Managing Consultant

JCI-Kimberley Executive Search International

Email: junius@consultant.com

Facebook: JCI-Kimberley

 

Twitter: @juniusrl



Post by JR
Resource : Online